Popular Posts

Jumat, 29 Maret 2013 0 komentar

Info seputar Asshiddiqiyah Islamic College (AIC)

yah cukup lama nggk post lagi di blog, dan sekarang gue baru bias post lagi nih .

hari ini gue pengen share seputar sekolah (PONPES) tentang Asshiddiqiyah, capcus lah gan...


 
Pondok Pesantren Asshiddiqiyah adalah salah satu pesantren besar di Indonesia. Pesantren ini didirikan pada bulan Rabi'ul Awal 1406 H (1 Juli 1985 M). Pondok Pesantren Asshiddiqiyah pertama kali didirikan oleh Dr. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ, putra dari salah satu kyai besar Jawa Timur yang berasal dari Banyuwangi yaitu KH. Iskandar, di atas tanah yang diwakafkan oleh H. Abdul Ghoni Dja'ani (Haji Oon), putra dari KH. Abdul Shiddiq di kawasan Kelurahan Kedoya Selatan Kebon Jeruk yang saat itu dipenuhi rawa dan sawah. Pondok Pesantren Asshiddiqiyah diasuh oleh DR. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ.
Dalam usianya yang ke-25, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah telah membuka delapan cabang yang tersebar di beberapa daerah, yaitu:
  1. Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Pusat, Kebon Jeruk Jakarta Barat
  2. Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II, Batu Ceper Tangerang Banten
  3. Pondok Pesantren Asshiddiqiyah III, Cilamaya Karawang Jawa Barat
  4. Pondok Pesantren Asshiddiqiyah IV, Serpong Tangerang Banten
  5. Pondok Pesantren Asshiddiqiyah V, Cijeruk Bogor Jawa Barat
  6. Pondok Pesantren Asshiddiqiyah VI, Sukabumi Jawa Barat
  7. Pondok Pesantren Asshiddiqiyah VII, Way Kanan Lampung
  8. Pondok Pesantren Asshiddiqiyah VIII, Musi Banyuasin Palembang Sumatera Selatan
Selain memiliki kerangka umum pendidikan formal di satu sisi dan kerangka khusus kurikulum kepesantrenan di sisi lain, sesuai dengan Trilogi Pondok Pesantren Asshiddiqiyah yang menjadi tujuan dasar berdiri, yaitu:
  1. Menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, serta membangun Iman dan Taqwa secara lebih mendalam.
  2. Berakhlakul karimah, sebagai dasar dari perikehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bertanah air.
  3. Menguasai bahasa asing, dalam hal ini yaitu Bahasa Arab dan Bahasa Inggris seiring perkembangan zaman dengan tanpa meninggalkan sokoguru daripada dasar pendidikan islam.
Pondok Pesantren Asshiddiqiyah menanamkan prinsip dasar dalam pendidikan yaitu:
ﺍﻠﻤﺤﺎﻓﻈﻪ ﻋﻠﻲ ﺍﻠﻗﺪﻳﻢ ﺍﻠﺻﺎﻠﺢ وﺍﻠأﺧﺬ ﺑﺎﻠﺠﺪﻳﺘ ﺍﻠأﺻﻠﻊ
Melestarikan kebiasaan/hal-hal yang baik yang telah dilakukan sejak dahulu (pembelajaran buku-buku serta metode klasik), serta melakukan kebiasaan/hal-hal terbaru yang dilakukan orang pada masa kini yang lebih baik
Pondok Pesantren Asshiddiqiyah menyelenggarakan pendidikan formal yang telah terakreditasi dengan baik, seperti:
  1. MI/Madrasah Ibtidaiyah, pendidikan formal keagamaan setingkat Sekolah Dasar.
  2. MTs/Madrasah Tsanawiyah, pendidikan formal keagamaan setingkat Sekolah Menengah Pertama.
  3. SMP Islam/Sekolah Menengah Pertama Islam.
  4. MA/Madrasah Aliyah, pendidikan formal keagamaan setingkat Sekolah Menengah Atas.
  5. SMA Islam/Sekolah Menengah Atas Islam.
  6. SMK Islam/Sekolah Menengah Kejuruan Islam; dan

Sejarah Berdiri dan Pengasuh

Sebagaimana telah diungkap di atas, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah pertama kali berdiri pada bulan Rabi'ul Awal 1406 H (1 Juli 1985 M). Pondok Pesantren Asshiddiqiyah pertama kali didirikan oleh Dr. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ, putra dari salah satu kyai besar Jawa Timur yang berasal dari Banyuwangi yaitu KH. Iskandar, di atas tanah yang diwakafkan oleh H. Abdul Ghoni Dja'ani (Haji Oon), putra dari KH. Abdul Shiddiq di kawasan Kelurahan Kedoya Selatan Kebon Jeruk yang saat itu dipenuhi rawa dan sawah.
DR. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ dibesarkan di Dusun Sumber Beras Banyuwangi. Beliau mengikuti pendidikan dasar dan menengahnya di Pondok Pesantren Manba'ul Ulum di Sumber Beras yang diasuh oleh Ayahnya sendiri, KH. Iskandar. Kemudian Beliau melanjutkan studi guna memperdalam lagi ilmu pengetahuan dan keagamaannya di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri Jawa Timur.
Kedatangannya di Jakarta kemudian berlabuh di kawasan Kedoya Utara Kebon Jeruk Jakarta Barat. Saat itu wilayah tersebut masih sepi dari penduduk, karena sebagian besar wilayahnya dipenuhi oleh beberapa bagian sawah dan ladang, serta sebagian besar rawa. Sebelum kedatangannya ke Jakarta, DR. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ, menikahi seorang gadis yang berasal dari Malang Jawa Timur, yaitu Ibu Nyai Hj. Noerjazilah, BA, yang hingga kini selalu setia menemani Beliau dalam suka maupun duka. Hingga kini Beliau dikaruniai 6 orang. Anak beliau saat ini adalah Nur Eka Fatimatuzzahro, Istiqomah Iskandar, Ahmad Makhrus Iskandar, Atina Balqis Izza, dan Muhammad Muhsin Ibrahim Iskandar. Sedangkan anak bungsu Beliau, Ahmad Ibrahim Iskandar meninggal beberapa hari setelah dilahirkan.
DR. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ., memilih nama Asshiddiqiyah untuk pesantren yang didirikannya, berdasarkan falsafah dari gelar yang diberikan Nabi Muhammad SAW kepada khalifah Abu Bakar atas keberanian dan kejujuran Abu Bakar dalam perikehidupan sehari-hari. Beliau mengharapkan agar santri-santri lulusan Pondok Pesantren Asshiddiqiyah dapat mengikuti perilaku baik seorang khalifah Abu Bakar, terutama dalam hal kejujuran, keberanian, dan sebagainya.
Kini, setelah 25 tahun perjalanannya, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah dibawah asuhan Dr. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ., telah mengembangkan sayap dengan menempatkan beberapa cabangnya yang juga bernama Asshiddiqiyah sebanyak 7 cabang di berbagai wilayah di negeri ini.

Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Pusat

Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Kedoya Kebon Jeruk ini adalah Pondok Pesantren Asshiddiqiyah yang pertama kali berdiri dan menjadi pelopor berdirinya beberapa cabang Pondok Pesantren Asshiddiqiyah di beberapa tempat lainnya. Di sini juga menjadi tempat kediaman pengasuh Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, DR. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ, beserta istri Ibu Nyai Hj. Noerjazilah, BA, dan kelima anaknya.
Unit kegiatan pendidikan yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Pusat:
  • SMP Islam Manba'ul Ulum Asshiddiqiyah
  • Madrasah Aliyah Manba'ul Ulum Asshiddiqiyah
  • Ma'had Aitam Saa'idusshiddiqiyah (Tahfidzul Qur'an)
  • Ma'had 'Aly Saa'idusshiddiqiyah (Sekolah Tinggi Agama Islam, setara Strata 1)

Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Batuceper
Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Batuceper terletak di Jalan Garuda No. 32 Batujaya Batuceper Kota Tangerang. Telp. (021) 5512708-551209 Fax. (021) 5517950.
Unit pendidikan di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Batuceper adalah :
  1. MTs Manba'ul Ulum Asshiddiqiyah
  2. SMP Manba'ul Ulum Asshiddiqiyah
  3. SMA Manba'ul Ulum Asshiddiqiyah
  4. SMK Manba'ul Ulum Asshiddiqiyah.

[SMA MANBA'UL ULUM ASSHIDDIQIYAH]
Sebagai salah satu unit pendidikan di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Batuceper Kota Tangerang. Sekolah ini telah berdiri sejak tahun 1999 dan sampai saat ini telah meluluskan alumninya ke berbagai perguruan tinggi, baik swasta maupun negeri baik dalam negeri maupun luar negeri
Sabtu, 12 Mei 2012 0 komentar

Share foto JKT48 school

Keceriaan JKT48 School episode 1-2


lama ga share foto JKT48 gan, hari ini saya akna menshare foto'' member JKT48 pada acara mereka swendiri ( JKT48 school )

capcus yah gan....







































nah bagaimana, cukup puas kan gan ....
tunggu episode selanjutnya yah, dan insya allah saya akan men-share foto'' member JKT48 lagi :)

salam 48 !
Rabu, 14 Maret 2012 0 komentar

Keceriaan Sahabat Kami.... (Yahdi)

ternyata salah satu teman saya (Yahdi Hidayatullah) menjadi bintang Youtube di kelas kami :)
Ini aksinya
semoga anda puas dengan aksi teman saya :)
Arigato Gozaimasu ...
0 komentar

G3 (short film - Indie Movie)


G3 (Gara Gara Galon). Berangkat dari kisah nyata dari beberapa orang mahasiswa yang tinggal dalam satu rumah kontrakan. Air Galon yang menjadi satu-satunya sumber air minum bersama ternyata telah habis. Seharusnya pembelian air galon dibeli secara bergilir, tetapi karena tidak ada yang mau mengakui gilirannya, akhirnya pecahlah pertempuran yang sangat dahsyat (Note: adegan dibuat lebay untuk hiburan)

Sabtu, 10 Maret 2012 0 komentar

Media Sosial Malah Menjadikan Manusia Anti-Sosial?


ilustrasiilustrasi
Media sosial? Tujuannya sih bagus. Untuk menghubungkan antar sesama individu dari belahan dunia mana pun. Mau kenal betulan atau hanya sekadar iseng-iseng sih boleh-boleh saja. Tapi, bagaimana kalau hal ini justru menjadikan individu tersebut menjadi makhluk anti-sosial?

Ini adalah pemikiran yang menarik. Selama ini kita terus-menerus mengintegrasikan teknologi maju ke dalam hidup kita,  dengan beragam aplikasi tambahan ke perangkat kita. Facebook, Twitter, seolah menjadi kehidupan kedua. Melalui teknologi tersebut, kita menciptakan, menavigasi, dan menunjukkan kehidupan emosional kita.

Kita membentuk dunia sendiri, kemudian mereka membentuk kita. Hal yang sama berlaku pada teknologi digital kita. Teknologi telah menjadi arsitek keintiman kita. Dengan online, kita menghadapi momen banyak godaan.

Kita terus-terusan SMS-an dan bermain jejaring sosial sehingga kita tidak lagi merasa kesepian. Tapi ternyata kita mengabaikan orang-orang dan dunia di sekitar kita. “Itu merupakan masalah serius, yang harus ditangani oleh teknologi, regulator serta norma aturan,” ujar psikolog Sherry Turkle.
Sherry TurkleSherry Turkle
Sherry Turkle adalah seorang psikolog dan profesor dari studi ilmu pengetahuan sosial dan teknologi di Institut Teknologi Massachusetts (MIT). Dia telah secara ekstensif meneliti bagaimana teknologi telah mempengaruhi kemampuan kita, untuk menyendiri maupun berhubungan dengan orang di dunia nyata sekitar kita.

Turkle telah menerbitkan sebuah buku berjudul “Alone Together: Why We Expect More From Technology and Less From Each Other”. Bahkan, baru-baru ini Sherry Turkle menjadi pembicara di konferensi TED (Technology, Entertainment, Design) untuk mendidik masyarakat tentang masalah ini.

Satu petunjuk hubungan digital ala media sosial yang Turkle tunjukkan yakni, “Kita bisa mengedit, dan berarti kita bisa menghapus. Dan kita membersihkan mereka dengan teknologi.” Hal ini memang nyata, misalnya di Facebook, dimana kita bisa sesuai keinginan mengangkat seseorang menjadi teman atau pun menghilangkannya dari daftar teman kita. Turkle mengatakan bahwa jenis hubungan komunikasi macam ini menawarkan “ilusi persahabatan tanpa tuntutan persahabatan.”

Kira-kira apa yang buruk tentang mentalitas “saya berbagi, oleh karena itu saya ada”, di mana orang-orang menjalani hidupnya dengan memikirkan gambar-gambar yang akan diunggah dan status yang akan mereka posting (update)? Sisi individualistis lah yang akan muncul dominan.

Jadi, bagaimana menurut Anda? Apakah Turkle tepat akan pengamatannya mengenai dampak media sosial pada hubungan manusia di dunia nyata? Atau apakah cara interaksi macam ini merupakan bentuk evolusi berikutnya dari komunikasi manusia, dalam dunia digital? Rasanya tak nyaman ya model ini.
Jumat, 09 Maret 2012 0 komentar
saya akan memposting video member'' JKT48 agar lebih mengenal lebih dalam JKT48 :)
cekidot ...

Nabilah Ratna Ayu Azalia

Rena Nozawa

Devi Kinal Putri

Jessica Veranda

Cleopatra 

Neneng Rosdiana

Melody

Fahira

Frieska

Allisa astri

Alissa Galliamova 
Ayana Shahab
 

 Beby Chaesara

cindy gulla

Delima rizky

Diasta

Gaby

Ghaida

Jessica Vania

Dhike

Rica Leyona
Sendy Ariani
 

 Shania Junianatha

Sonia

Stella
 

Sonya


OK gan, berikut adalah Video Member" dari JKT48
semangat slalu buat JKT48
SEMANGAT 48!!!!
0 komentar
ini dia member" JKT48 di TV jepang :) + VC Heavy Rotation ...
capcus deh :)
 


 
cukup sampai sini dulu yah gan :) besok saya Update lagi :)
Konnichiwa :)

Pengikut

 
;